Perlindungan Anak & Perempuan

PERAN AYAH DALAM MEMBENTUK ANAK BERMENTAL BAJA

Di dalam keluarga peranan ayah sangat memberikan warna kepada anggota keluarga, karena dia yang menjadikan rumah memiliki ruh kehidupan, berisikan dengan berbagai aktifitas keluarga sebagaimana peran dan fungsinya masing-masing, dan ayah sebagai kapten di rumah memimpin jalannya agenda keluarga, dan seluruh anggota wajib mengikuti, reward dan punishment berlaku bagi yang taat dan juga bagi yang melanggar, dan tentunya sudah menjadi kesepakatan bersama. Indahnya jika seluruh keluarga di masyarakat idealnya menerapkan hal yang sama, namun sayangnya tidak, banyak kasus keluarga tidak harmonis hingga anak broken home karena tidak adanya fungsi dan peran ayah, kurangnya edukasi dalam berkeluarga di tambah minimnya pemahaman agama, sehingga tidak sedikit hubungan suami istri harus berakhir di meja hijau.

Ayah dalam pemahaman kita adalah sosok perkasa, berani, penyayang dan bijaksana dalam memimpin keluarga hal ini tidak bisa dibantah, karena sejatinya seorang ayah harus menjadi pelindung bagi istri dan anak anaknya. Bagaimana jika memiliki ayah yang lemah secara kepribadian, tidak dewasa dalam menghadapi permasalahan keluarga tentunya jauh dari apa yang di contohkan Rasulullah SAW. Beliau memberi contoh sangat baik tentang hal ini. Rasul adalah sosok perkasa, kuat, penyayang kepada orang lemah dan sangat kasih sayang kepada anak laki-laki maupun perempuan. Beliau mengungkapkan rasa sayang, mendoakan, bahkan mengecup anak-cucunya. Akhlak seperti ini juga baik diterapkan kepada istri. “Istri yang bahagia akan membuat suasana rumah dan lingkungan pengasuhan menjadi lebih bahagia..” demikian satu dari banyak ilmu yang dibagikan oleh gerakan ayah pembelajar, Fatherman.id.

Kita sudah menyadari bahwa Indonesia krisis figur ayah. Karena itulah, umat harus giat dan perlu lebih gencar memberikan pendidikan kepada ayah ataupun calon ayah nantinya untuk bisa memainkan peran lebih dalam membina keluarga. Ditengah gempuran media informasi dan teknologi yang semakin hari semakin menghawatirkan dimana peran ayah sangat dibutuhkan khususnya dalam mendidik anak laki-laki, pengawalan sudah harus di mulai sebelum masuk akil baligh. Kedekatan emosional harus dibangun antara ayah dan anak laki laki dalam hal memberikan tugas dan tanggung jawab di rumah, sekolah dan lingkungan. Hal ini dilakukan setiap hari yang nantinya akan menjadi pembiasaan hingga menjadi karakter. Karakter yang sudah terbentuk dalam bentuk pembiasaan positif ini akan menjadikan anak bermental baja, tidak cengeng jika berhadapan dengan masalah bahkan dia berusaha mencari sendiri solusi terbaik.

Dalam lingkungan pendidikan formal pun, seperti sekolah, para guru dan pengambil kebijakan diharapkan bisa mengambil peran dalam memberikan kesempatan yang luas bagi siswa laki-laki dalam hal prestasi daripada siswa perempuan, tidak ada maksud diskrimiasi namun kita ingin mencoba mengembalikan fitrah laki laki sebagai seorang pemimpin, yang nantinya melalui prestasi yang di raih muncul potensi yang menghantarkannya bisa meraih posisi. Kita percaya laki-laki diberi peran oleh Allah SWT sebagai pemimpin (qowwam), tetapi kita tidak berusaha memupuk sifat-sifat qowwam yang cemerlang itu sejak dini, sehingga lahirlah generasi “stroberi” yang lemah secara kepribadian, mudah menyerah, cengeng dan ketergantungan terhadap orang lain.

Sudah banyak informasi dalam setiap parenting menekankan agar anak laki-laki dididik sama dengan anak perempuan diajarkan memasak, bersih-bersih, dan bertanggung jawab atas urusan sendiri. Seorang sosok Ibu pun didorong untuk memberi ruang kepada ayah untuk belajar dalam hal pengasuhan anak. Dan ibu harus agak sedikit bersabar sejenak dalam menghadapi ayah yang belum sekompeten ibu dalam kemampuan mengasuh anak. “A father more precious than a hundred school teacher”, (Satu ayah lebih berharga daripada seratus guru sekolah) demikian guratan penyair Inggris George Herbert. Seperti semangat untuk mendidik para ibu yang berbuah manis hari ini, semoga gerakan untuk meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan memiliki dampak manis terhadap keutuhan keluarga, tumbuh kembang anak, dan terbentuknya generasi-generasi teladan penerus agama dan bangsa.

Penulis:  Ari Fakhrizal (Peserta Kegiatan “Menulis Esai oleh Ayah dan Calon Ayah” yang diselenggarakan oleh LBF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *